Gadis Bali: Adat Banten Harus Dijaga


Ilustrasi Gadis Bali Bersembahyang
(Source: Google)

    Banten biasa dikenal sebagai sesajen persembahyangan umat Hindu di Bali. Seiring berjalannya waktu, membuat banten kini sudah membudaya di kalangan masyarakat Bali. Hal ini terjadi karena intensitas upacara agama yang diselenggarakan di Bali sangat padat, menyebabkan banten menjadi harus sering dibuat. Kata Bali sendiri berasal dari kata Wali yang berarti Banten atau persembahan. Tidak heran, di kalangan masyarakat muncul paradigma “bukan Bali bila tanpa Banten”. Sehingga bila budaya Banten punah dan hilang ditelan zaman, Bali bukan menjadi Bali kembali.

     Namun masalahnya, eksistensi banten di kalangan generasi muda Bali, khususnya gadis Bali mulai menurun. Banyak gadis Bali yang mengaku tidak bisa membuat banten. Padahal membuat banten memiliki makna sebagai perwujudan rasa syukur kita atas anugerah dari Tuhan. Selain itu, dengan senantiasa mempelajari banten, merupakan apresiasi gadis Bali terhadap budaya dari tanah kelahirannya sendiri.

    Banyak hal yang melatarbelakangi gadis Bali masa kini tidak bisa membuat banten, seperti membuat banten dianggap sebagai suatu kegiatan yang sangat sulit, malas membuat banten, dan lain sebagainya. Mengingat pentingnya peranan banten, kebiasaan membuat banten di kalangan gadis Bali harus segera dilestarikan. Jangan sampai, budaya membuat banten punah dan hilang dari peradaban masyarakat Bali di masa mendatang.

    Perlu diketahui, keinginan dan ketertarikan dalam membuat banten tidak bisa hanya dilandasi dari minat semata. Membuat banten dianggap sebagai sebuah kewajiban dan tanggung jawab di kalangan kaum perempuan Bali. Oleh karena itu, gadis Bali harus segera mempelajari banten sebagai upaya regenerasi dari adat kebiasaan masyarakat Bali yang senantiasa membuat banten di segala upacara. Gadis Bali masa kini harus menyadari peranan penting dari kebiasaan membuat banten. Gadis Bali harus bisa membuat banten.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

13 komentar

komentar
6 Juli 2016 pukul 21.45 delete

wiss mantap suryaa, lanjutkan!

Reply
avatar
6 Juli 2016 pukul 21.55 delete

Fyi, faktor lainnya yaitu banyaknya dagang canang dan banten yang membuat banyak kalangan kbh memilih cara instan drpd menikmati keseruan nyait😂. Tapi klo gaada yg milih cara instan, kasian entar dagangannya gk laku trus rugi trus terjadi pengangguran... :v

Reply
avatar
6 Juli 2016 pukul 21.59 delete

Tapi kita juga harus liat kalo banyaknya orang yang dagang banten itu karena ada peluang. Jadi coba sedikitin gadis bali yang pilih cara instan. Gak ada peluang untuk jadi dagang banten :-d

Reply
avatar
6 Juli 2016 pukul 22.03 delete

Ya kan kalo udh terlanjur jadi dagang canang kan kasian kak. Rugi - nganggur - makin banyak jumlah pengangguran - indonesia gk maju - bakalan terus jadi negara berkembang :v✌

Reply
avatar
6 Juli 2016 pukul 22.06 delete

Maka dari itu perlu daya inovasi dari rakyat Indonesia mencari lapangan kerja baru. Jangan justru ikut memberikan andil pada menurunnya minat gadis bali bikin banten :v

Reply
avatar
6 Juli 2016 pukul 22.08 delete

Okok saya mengalah😂👌

Reply
avatar
7 Juli 2016 pukul 02.03 delete

Cerminan perilaku "gadis Bali" masa kini, tapi tidak semuanya seperti itu.
Sekarang bagaimana didikan keluarga gadis tersebut mengajarkan kebiasaan untuk menjaga kebudayaan Bali khususnya dalam hal membuat banten.
Lanjutkan baymax !

Reply
avatar
9 Juli 2016 pukul 06.44 delete

Wihh keren boleh boleh nih

Reply
avatar
9 Juli 2016 pukul 17.36 delete

Aku sendiri juga sering berpikir. Gimana nanti kalau udah besar, tapi ngga bisa buat banten. Masa orang bali gabisa buat banten, huhu sedih 😭. Kalau yang sederhana kayak canang ya masih bisa lah

Reply
avatar