Mewujudkan MPLS yang Lebih Baik

Potret Perploncoan dalam MOS 
(Source: Google)

Permendikbud No. 18 tahun 2016 terkait penetapan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dapat dikatakan menjadi ‘jawaban’ atas kegeraman masyarakat. Tindak perploncoan oleh kalangan senior kepada siswa baru yang ‘tumbuh’ dalam kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) menjadi tolak ukur bagi pemerintah ‘berani’ mengeluarkan regulasi tersebut. Angin segar? Ya, regulasi yang seakan-akan membawa siswa baru ke depan ‘pintu kebebasan’.

MOS yang semula memang bagai petaka. Siapa yang tega melihat ‘anak ingusan’ harus bermandi peluh dan berteman lelah kala dihadapi tugas yang tak semestinya dilakukan? Bekerja bak tentara. Dari subuh hingga subuh, belum tentu mereka dapat istirahat. Semuanya atas segala perintah dari para senior.

Pernah dengar soal “Undang-Undang MOS”? “Pasal 1, Kebenaran senior adalah segalanya. Pasal 2, Bila senior salah, peraturan kembali ke pasal 1.” Miris, melihat senior meposisikan diri sebagai sumber dari segala kebenaran. Bahkan keberadaan Sang Pencipta pun tidak diakui.

Dampak akut akan merongrong para siswa menjadi momok yang tak dapat dihindarkan. Beban fisik dan psikologis tentu akan bersarang di lubuk hati yang paling dalam. Efek MOS bak bola salju. Menggelinding, makin besar, kemudian menindas kaum ‘bawah’.

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sepatutnya layak menjadi ‘senjata ampuh’ untuk memutus rantai efek MOS tersebut. Banyak asa, yang digantungkan siswa baru kepada keputusan baru ini. Bebas dari kekerasan verbal, fisik, ataupun psikis. Termasuk tugas-tugas tidak masuk akal, yang dibebankan oleh senior yang mengaku mesti diagungkan. Kini, semua itu dipercayakan kepada guru. Amanah besar ini diharapkan dapat diampu dengan sebaik-baiknya. Tanpa kontroversi baru lagi.

Namun, namanya sistem baru, selalu ada celah untuk menjatuhkan, bahkan menumbangkan program yang baru seumur jagung itu. Orang-orang yang tak bersimpati justru menebar rasa dengki.  Adanya isu pungutan liar pihak sekolah, penggunaan tempat di luar sekolah sebagai lokasi kegiatan, sampai pada dugaan tumbuhnya sikap individualisme dan pencelaan terhadap kehormatan senior mewarnai penyelenggaraan perdana MPLS. Banyak pihak justru tidak menyikapi keberadaan MPLS dengan bijak.

Dari sudut pandang penyelenggara, MPLS justru dianggap sebagai ajang coba-coba. Kadang, ada pula yang justru menganggap sebelah mata, teknis penyelenggaraan serta konsep MPLS. Kurangnya komunikasi, koordinasi, serta penetapan keputusan secara sepihak menjadi buktinya. Selain itu, tindak lanjut seusai penyelenggaraan MPLS tidak mendapat perhatian serius oleh pihak sekolah. Inti dari MPLS untuk menumbuhkan kesadaran akan toleransi antara senior dan junior belum terlaksana. Karena masih banyak siswa yang tiba-tiba ‘ciut’ kala menghadapi senior. Lantas, di mana sekolah saat itu? Paling hanya sibuk mengurus kertas-kertas bercap “LPJ Fiktif” agar atasan tak bawel.

Esensi penyelenggaran MPLS sendiri belum merasuk benar ke dalam benak para siswa. Buktinya, sudah diberi kebebasan, semua junior malah berbondong-bondong mencari muka di depan para senior. Tugas dan deadline waktu yang dibebankan oleh penyelenggara justru membuahkan sikap individualisme para junior. Alhasil, sang senior justru naik darah atas perbuatan mereka.  

Sementara itu, senior tidak mau mengalah. Dendam masa lalu yang terpatri di dada, menjadi pedang tajam yang berhasil mengubah mindset para senior. Kakak kelas menjadi gila hormat, sehingga cenderung tidak menerima keberadaan MPLS. Pelampiasannya datang pasca-MPLS. Ujung-ujungnya, setali tiga uang!

Esensi penyelenggaraan MPLS adalah mengemas kegiatan pengenalan lingkungan sekolah menjadi lebih ramah anak. Ramah anak maksudnya, segala kegiatan di dalamnya menjunjung kebebasan dan kegembiraan peserta, tanpa adanya unsur keterpaksaan.


Seluruh komponen di dalam penyelenggaraan MPLS, baik itu sekolah, junior, ataupun senior harus menyadari perannya masing-masing. Sekolah harus merancang matang-matang konsep dan teknis pelaksanaan MPLS. Siswa baru sebagai peserta juga patut memahami dan menerapkan segala nilai positif yang ditanamkan saat MPLS. Serta sang senior harus segera melupakan dendam masa lalu. Sikap keterbukaan dan rasa toleransi-integrasi merupakan kunci untuk menyukseskan MPLS sesuai tujuannya. MPLS efektif, untuk menebar kedamaian, memutus belenggu kebencian dalam dunia pendidikan di Indonesia. Hidup MPLS!

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »